Memaknai Sejarah Suku Bugis dan Makassar

KABARBUGIS.ID – Sejarah berarti proses historis, yang memiliki rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa silam dan membentuk suatu sejarah serta menjadi bahan ajaran di masa kini. 

Sejarah dapat pula berarti penulisan sejarah itu sendiri, yakni penulisan kembali peristiwa-peristiwa masa silam agar dapat dikaji oleh orang-orang yang hidup di masa kini.

Seperti halnya Sulawesi Selatan yang menjadi rumah bagi sejumlah suku di Indonesia. Demikian halnya masyarakat Suku Bugis yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Bone, Wajo, Soppeng, Sinjai, Bulukumba, Barru, Pare-Pare, Sidrap, Pinrang, dan Luwu.

Sementara itu, Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan Pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkasara, yang berarti "Mereka yang Bersifat Terbuka". 

Abdi Mahesa yang juga merupakan Pemuda Pegiat Sejarah menjelaskan bahwa, orang Bugis Makassar dalam menulis sejarah, mereka menuliskan sejarah secara objektif dan berbicara apa adanya, sehingga di dalam dokumen tertua Bugis, ada namanya Lagaligo, dan di dalam dokumen tertua Makassar ada namanya Lontara Mangkasaraka.

"Dokumen tertua Bugis itu ada namanya lagaligo, dan di dalam dokumen tertua Makassar ada namanya lontara mangkasaraka yang dicatat oleh Daeng Pamatte yang pada masa itu menjadi syahbandar kerajaan Gowa" Kata Abdi, Jumat (31/12).

Sejarah inilah yang melahirkan banyak dinamika, dan melahirkan banyak perjalanan panjang dan penuh dengan darah keringat air mata, yang dimana kerajaan-kerajan saling berselisih, mereka ingin membangun suatu hegemoni secara superior, sehingga menaklukkan kerajaan kecil lainnya.

"Dalam sejarah pada masa itu, Gowa berkubu dengan Wajo dan Luwu yang notabenenya adalah suku Bugis, dan Bone berkubu dengan kerajaan Binamu dan Bangkala yang notabenenya adalah suku Makassar," ujarnya.

"Jadi sejarah ini bukan sejarah yang melibatkan konflik antar suku, tetapi melibatkan konflik antar kepentingan politik dan sejarah menjawab semua itu, dan sejarah lah yang memberikan kita suatu gambaran secara kronologis yang sangat kronik tentang bagaimana perjalanan hidup nenek moyang kita," tambah Abdi.

Sementara itu Suriadi Mappangara yang juga merupakan dosen Ilmu Sejarah di Universitas Hasanuddin (UNHAS), mengungkapkan, di Sulawesi Selatan banyak hal yang bisa digali dari segi sejarah.

"Selama ini, banyak melihat bahwa perang itu lebih banyak kepada orang-orang bugis sebenarnya, terutama ketika Arung Palakka mendominasi kekuasaan, tetapi itu kita bisa lihat dari sudut pandang lain sebenarnya, misalnya kita melihat pada mereka-mereka yang kalah pada peperangan," kata Suriadi.

"Itulah yang sebenarnya terjadi ketika penulisan sejarah Eropa itu lebih menekankan pada Belanda sebagai figur utama, akhirnya muncullah sejarawan-sejarawan Indonesia yang mencoba melihat bahwa peristiwa itu bukan semata-mata datang dari orang belanda saja, tetapi pengaruh dari dalam. Bumi Putra juga sebenarnya berperan besar, itu sebenarnya yang bisa kita gali banyak dalam sejarah Sulawesi Selatan," tambahnya.

lebih lanjut, Suriadi menjelaskan bahwa, untuk belajar sejarah dan membangkitakan kesadaran sejarah sebenarnya bukan cuman bisa di dapatkan dari perguruan tinggi saja, dengan mengunjungi museum kita bisa belajar sejarah.

"Belajar sejarah bukan harus lewat perguruan tinggi sebenarnya, belajar sejarah dengan mengunjungi objek-objek bersejarah kita juga bisa mengunjungi museum, dari situlah kita banyak mengenal sejarah sebenarnya," tutupnya. Sumber KabarMakassar.com